Wow, Ganja Sudah Dikonsumsi 300 Tahun Lalu

Sejarahnya Dalam Hidup Manusia

Sejarah canabis atau ganja dan penggunaannya oleh manusia dimulai sejak tahun 300 sebelum masehi. Itu yang tertulis. Kenyataannya bisa lebih lama lagi apabila kita menemukan artefak atau bukti-bukti arkeologis.

Selama ratusan tahun, ganja digunakan sebagai jamu, makanan, obat-obatan dan tali temali. Di belahan bumi lainnya, ganja juga digunakan sebagai “vitamin” untuk acara keagamaan dan tentunya kesenangan.

Larangan penggunaan tanaman ini pertama kali terjadi di kalangan negara-negara islam pada abad ke 14. pada abad ke 19 sejumlah negara-negara kolonial juga menerapkan larangan yang sama. Seringkali alasan pelarangan ini dkaitkan dengan rasial dan perbedaan kelas (politik rasis).

Pada abad ke 20 hampir seluruh dunia memberlakukan larangan penggunaannya. Memasuki abad 20 sejumlah negara mulai mengendurkan larangannya.

Dengan perhitungan yang terukur untuk menghilangkan kriminalisasi penggunaannya, Belanda menjadi negara pertama yang melakukan legalisasi. Uruguay menyusul pada 2015 untuk alasan rekreasi dan Canada pada 2018. Sementara Afrika Selatan memperbolehkan penggunaannya untuk dipakai dirumah saja.

Ganja adalah tanaman asli Asia Tengah. Merupakan salah satu tanaman awal yang dibudidayakan. Di Jepang, ganja dibudidayakan sejak masa pra-Neolitikum untuk digunakan sebagai serat dan sebagai bahan psikoaktif. Sebiuah situs arkeologi di Kepulauan Oki, Jepang didapatkan jejak ganja pada pot yang berkemungkinan berasal dari tahun 8000 sebelum masehi.

Sejarah Ganja

Pada masa Neolitik, ganja ditemukan di China dan digunakan sebagai serat untuk memperkuat tembikar kebudayaan Yang shao pada abad ke 5 sebelum masehi. Orang China kemudian membudidayakan ganja sebagai pakaian, sepatu, tali dan kertas. Di Korea sendir, ganja adalah tanaman penting dan digunakan sejak 3.000 tahun sebelum masehi.

Asal nama Ganja sendiri berasal dari bahasa sanskerta dan sebagian bahasa indo-arya modern. Sejumlah peneliti menyebutkan tentang drug kuno, soma yang disebutkan dalam kitab Veda adalah Ganja. Kata bhanga juga disebutkan pada sejumlah teks India sekitar tahun 1000 sebelum masehi. Meskipun masih menjadi perdebatan apakah bhanga yang dimaksud bisa diindentifikasikan sebagai ganja atau bukan.

Bangsa Asiria kuno juga mengenal ganja dan menemukan sifat psikoaktifnya melalui hubungannya dengan bangsa Arya. Mereka menyebutkan qunubu (cara menghasilkan asap) dan digunakan pada beberapa acara keagamaan.

Diduga, kata qunubu inilah yang kemudian berubah menjadi ganja pada saat Bangsa Arya memperkenalkan tanaman ini kepada Scythians, Thracians and Dacians. Dimana dukun dari suku terakhir ini menggunakannya untuk “berjalan diatas awan” dan untuk memicu kesurupan.

Sejarawan Yunani, Herodotus (400 SM) juga melaporkan bahwa penduduk Scythia sering menghirup uap asap biji ganya dan digunakan untuk berbagai tujuan, baik untuk upacara keagaamn maupun untuk bersenang-senang.

Sebagai properti ritual, ganja ditemukan pada seluruh site arkeologi diseluruh dunia. Penemuan di Pazyryk pada abad ke 5 dan ke 2 SM juga membenarkan laporan yang ditulis oleh Herodotus.

Penyebaran secara Global

Pada pergantian milenium, penggunaan ganja mulai menyebar dari Persia ke dunia Arab. Ganja diperkenalkan di Irak pada 1230 M pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mustansir Bi’llah, oleh rombongan penguasa Bahrain yang mengunjungi Irak.

Baca Juga, Makmeugang, Tradisi Masyarakat Aceh

Hashis diperkenalkan di Mesir oleh pengembara mistik islam dari Suriah pada masa dinasti Ayyubiyah pada abad ke-12 Masehi. Bukti konsumsi hashis oleh sufi Mesir telah terdokumentasi dengan baik pada abad ke 13, bersamaan dengan dokumehtasi penggunaan Ganja di India. Dalam bentuk rokok, ganja belum menjadi hal yang umum sampai diperkenalkannya tembakau. Sehingga, sampai dengan tahun 1500-an ganja di dunia muslim dikonsumsi sebagai makanan.

Ganja juga diperkenalkan ke Afrika oleh para pelancong Hindu Arab atau India, yang kemudian diperkenalkan oleh suku Bantu ke Afrika selatan ketika mereka bermigrasi ke selatan. Pipa-pipa rokok yang ditemukan di Ethiopia (1320 M) memiliki jejak ganja. Ganja juga populer digunakan di Afrika Selatan oleh penduduk asli Khoisan dan Bantu sebelum pemukiman Eropa di Cape pada tahun 1652. Menjelang tahun 1850-an, para pedagang Swahili membawa ganja dari pantai timur Afrika, ke Lembah Kongo di bagian barat.

Selama invasi Napoléon Bonaparte ke Mesir pada 1798, alkohol tidak ditemukan di Mesir karena Mesir adalah negara Islam. Sebagai penggantinya pasukan Bonaparte memilih untuk mencoba ganja. Dokter Prancis Jacques-Joseph Moreau, dalam perjalanan pada tahun 1836-1840 di Afrika Utara menulis tentang efek psikologis penggunaan ganja; Moreau adalah anggota Paris ‘Club des Hashischins (didirikan pada 1844). Pada tahun 1842, dokter Irlandia William Brooke O’Shaughnessy, yang telah mempelajari obat tersebut ketika bekerja sebagai petugas medis di Bengal, membawa sejumlah ganja bersamanya saat kembali ke Inggris sehingga memicu minat baru di Barat.

Pelarangan

Pelarangan ganja diseluruh dunia terjadi pada waktu yang berbeda-beda. Paling awal adalah Soudoun Sheikouni, seorang emir Joneima di Saudi yang melarang penggunaan ganja pada tahun 1300-an.

Belanda melarang pengunaan Ganja di Indonesia sejak 1927, sementara Indonesia menerapkan larangan pada 1976.

Pada 1787 Raja Madagaskar Andrianampoinimerina naik takhta, dan segera setelah melarang ganja di seluruh Kerajaan Merina, menerapkan hukuman mati sebagai hukuman atas penggunaannya.

Ketika kekuatan kolonial Eropa menyerap atau melakukan kontak dengan daerah-daerah pengguna ganja, kebiasaan ganja mulai menyebar ke daerah-daerah baru di bawah payung kolonial, menyebabkan beberapa kekhawatiran di antara pihak berwenang.

Setelah invasi ke Mesir Syria (1798-1801), Napoleon melarang penggunaan ganja di antara tentaranya. Ganja diperkenalkan ke Brasil oleh penjajah Portugis atau oleh budak Afrika pada awal 1800-an. Niat mereka mungkin untuk menanam serat rami, tetapi budak yang diimpor Portugis dari Afrika akrab dengan ganja dan menggunakannya secara psikoaktif.

Kekhawatiran tentang penggunaan gandja oleh buruh menyebabkan larangan di Mauritius Inggris pada tahun 1840. Singapore kemudian menyusul menerapkan larangan akibat penggunaan yang berlebihan oleh buruh India. Pada 1870, Natal (sekarang di Afrika Selatan mengeliuarkan Hukum Pekerja dimana disebutkan bahwa penggunaan dan kepemilikan, penjualanan, barter atau hadiah kepada setiap kuli kontrak yang berasal dari bagian manapun tanaman ganja adalah dilarang.

Upaya kriminalisasi ganja di Inggris-India dilakukan, dan diperdebatkan pada tahun 1838, 1871, dan 1877. Pada tahun 1894, pemerintah India Britania menyelesaikan studi ganja di India. Temuan laporan itu menyatakan:

“Melihat subjek secara umum, dimana penggunaan obat-obatan ini secara moderat dapat dikendalikan dan diketemukan penggunaan yang berlebihan, secara praktis penggunaannya tidak menimbulkan efek buruk. Dalam semua kasus, kecuali yang paling luar biasa, tidak diketemukan adanya cedera. Penggunaan berlebihan tentu tidak dapat diterima meskipun tidak diketemukan adanya konsumen yang mengalami cedera.”
— Report of the Indian Hemp Drugs Commission, 1894-1895

Peraturan International

Pada tahun 1925 sebuah kompromi dibuat dalam sebuah konferensi internasional di Den Haag tentang Konvensi Opium Internasional yang melarang ekspor “rami India” ke negara-negara yang telah melarang penggunaannya, dan mengharuskan negara-negara pengimpor untuk menerbitkan sertifikat yang menyetujui impor dan menyatakan bahwa pengiriman tersebut dilakukan karena kebutuhan “khusus untuk keperluan medis atau ilmiah”. Ini juga mengharuskan para pihak untuk terius “melakukan kontrol yang efektif untuk mencegah peredaran terlarang secara international.

Kunjungi juga, Richland – Informasi Pertanian dan Perkebunan

Di Amerika Serikat pada tahun 1937, Undang-Undang Pajak Mariyuana disahkan dan melarang produksi ganja. Alasan bahwa ganja juga termasuk dalam undang-undang ini masih diperdebatkan — beberapa peneliti mengklaim bahwa tindakan itu ditujukan untuk menghancurkan industri rami AS. Tidak lama kemudian Amerika Serikat kembali mempromosikan budidaya mariyuana terkait kebutuhan Amerika untuk membuat seragam, kanvas dan tali pada selama Perang Dunia II dan dibudidayakan di Kentucky dan Midwest. Selama Perang Dunia II, AS memproduksi film pendek pada tahun 1942, “Rami untuk Kemenangan”. Film tersebut mempromosikan ganja sebagai tanaman yang diperlukan untuk memenangkan perang.

Di Eropa Barat, budidaya mariyuana tidak dilarang secara hukum pada 1930-an, tetapi budidaya komersial berhenti saat itu, karena penurunan permintaan dibandingkan dengan serat buatan yang semakin populer. Pada awal 1940-an, produksi dunia ganja untuk dijadikan serat berkisar antara 250.000 hingga 350.000 metrik ton dimana Rusia adalah produsen terbesar.

Popularisasi dan Perang terhadap Narkoba

Pada pertengahan abad ke-20, gelek kembali berkembang. Pertama di pinggiran masyarakat Barat, tetapi kemudian semakin populer. Ganja tetap menjadi masalah masyarakat pinggiran di Inggris, terkait dengan stigma masyarakat: “pelaut berwarna dari East End sering dikunjungi oleh pemain teater Negro”. Persepsi ini semakin meruncing setelah serangan polisi tahun 1950 di Club Eleven di Soho yang menemukan kanabis dan kokain, dan menyebabkan penangkapan beberapa pemuda Inggris. Di Amerika Serikat selama periode Interwar yang sama, ganja sangat terkait dengan musisi jazz. Ganja membuat terobosan lebih lanjut dan digunakan oleh orang kulit putih Amerika pada 1950-an dan munculnya subkultur beatnik.

Pada tahun 1960-an, Amerika Serikat melihat peningkatan dramatis dalam penggunaan ganja, terutama di kalangan anak muda dan mahasiswa yang mempopulerkan ganja ke kelas menengah. Internasionalisasi budaya populer kemudian menyulut peningkatan penggunaan ganja di negara-negara Anglo lainnya, di Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru.

Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang pengendalian narkoba termasuk Konvensi Tunggal tentang Narkotika Obat-obatan tahun 1961, diamandemen oleh Protokol yang mengubah Konvensi Tunggal tentang Narkotika Obat-obatan terlarang pada tahun 1972; Konvensi Zat Psikotropika tahun 1971; dan Konvensi PBB Menentang Lalu Lintas Gelap di Narkotika dan Zat Psikotropika tahun 1988.

Sebagai bagian dari Perang Melawan Narkoba, Amerika Serikat menerapkan kebijakan luar negeri pada negara-negara penghasil ganja di tahun 1970-an dan 1980-an. Pada tahun 1973, AS menekan Nepal untuk menutup distribusi dan toko legalnya. Pada tahun yang sama, AS menyediakan US$ 47 juta kepada Afghanistan untuk pemberantasan kanabis dan opium. Demikian pula, pada tahun 1985 AS memulai pemberantasan di Belize (kemudian menjadi eksportir terbesar keempat di AS), yang pada akhirnya menurunkan produksi di sana menjadi “tingkat yang dapat diabaikan”.

Liberalisasi dan Legalisasi

Pada tahun 1972, pemerintah Belanda melakukan catalog dan mengklasikasikan sejumlah obat-obatan menjadi kategori yang lebih dan lebih tidak berbahaya. Mariyuana adalah salah satu yang berada pada kategori yang lebih rendah. Karena itu, kepemilikan 30 gram atau kurang hanya dikenakan pelanggaran ringan. Di Belanda, tanaman tersedia di kedai kopi sejak tahun 1976. Produk-produknya hanya dijual secara terbuka di “kedai kopi” lokal tertentu dan kepemilikan hingga 5 gram untuk penggunaan pribadi diperbolehkan.

Ganja mulai menarik minat baru sebagai obat pada 1970-an dan 1980-an, khususnya karena penggunaannya oleh pasien kanker dan AIDS yang merasa diringankan rasa sakit yang diperoleh akibat kemoterapi dan wasting syndrome. Pada tahun 1996, California menjadi negara bagian A.S. pertama yang melegalkan ganja medis yang bertentangan dengan hukum federal. Pada tahun 2001, Kanada menjadi negara pertama yang mengadopsi sistem yang mengatur penggunaan medis.

Tanaman Ganja

Pada tahun 2001, Portugal mendekriminalisasi semua narkoba, meskipun masih mempertahankan larangan produksi dan penjualan, namun kepemilikan pribadi dan penggunaan mariyuana dirubah dari pelanggaran pidana menjadi pelanggaran administratif. Selanjutnya, sejumlah negara Eropa dan Amerika Latin mendekriminalisasinya, seperti Belgia (2003), Chili (2005), Brasil (2006), dan Republik Ceko (2010).

Di Uruguay, Presiden Jose Mujica menandatangani undang-undang untuk melegalkan mariyuana untuk bersenang-senang pada Desember 2013. Hal ini menjadikan Uruguay negara pertama di era modern yang melegalkan ganja. Pada Agustus 2014, Uruguay memperbolehkan setiap rumah menanam 6 batang pohon. Di Kanada, setelah pemilihan Justin Trudeau 2015 dan pembentukan pemerintahan Liberal, pada 2017 House of Commons mengeluarkan undang-undang untuk melegalkan ganja pada 17 Oktober 2018.

World Drug Report PBB pada tahun 2010 menyatakan bahwa ganja “adalah obat yang paling banyak diproduksi di dunia, diperdagangkan, dan dikonsumsi di dunia”, Jumlah penggunanya secara global diperkirakan mencapai 128 juta hingga 238 juta pengguna. Banyak juga ya.

Leave a Reply