Ternyata Ada Negara No 1 Paling Tidak Bahagia

Ini nih, negara paling tidak bahagia di dunia

Sebuah negara di Benua Afrika, Burundi ditetapkan oleh PBB sebagai sebuah negara paling tidak bahagia. Negara dengan luasan sedikit lebih kecil dari Jawa Barat, 28 ribu km persegi ini dihuni kurang lebih 11 juta penduduk.

Burundi (bahasa Prancis: Burundi), Republik Burundi (bahasa Prancis: République du Burundi, Templat:Lang-rn) adalah sebuah negara tanpa laut di daerah Danau Besar di tengah benua Afrika. Negara ini berbatasan dengan Rwanda di utara, Tanzania di selatan dan timur, dan Republik Demokratik Kongo di barat.

Meskipun negara ini tidak mempunyai batas laut, banyak dari perbatasan baratnya bersebelahan dengan Danau Tanganyika. Nama negara ini berasal dari bahasa Bantu, Kirundi. Negara ini sangat miskin. Dibanding Indonesia, pendapatan perkapitanya 400 kali lebih kecil daripada Indonesia.

Burundi merupakan sebuah kerajaan merdeka sejak abad ke-16. Asal-muasal kerajaan Burundi sendiri masih diselimuti mitos. Menurut beberapa legenda, Ntare Rushatsi, pendiri dinasti pertama, datang dari Rwanda pada abad ke-17; sumber-sumber lain yang lebih tepercaya memberikan kemungkinan bahwa Ntara berasal dari Buha, di tenggara, dan mendirikan kerajaannya di wilayah Nkoma. Hingga jatuhnya kerajaan pada tahun 1966, ia merupakan salah satu taut terakhir dengan sejarah Burundi pada masa lalu.

Titik terendah negara ini adalah Danau Tanganyika  pada ketinggian 772 m dpl sementara titik tertingginya adalah puncak Gunung Heha 2.670 meter dpl. Negara yang dikelilingi daratan ini tidak punya batas laut sama sekali. Berbatasan langusng dengan Rwanda, Tanzania, dan Republik Demokrasi Kongo.

Sapaan Amashyo Di Negara Burundi

Hewan ternak sapi adalah hewan  paling penting dalam kebudayaan nasional Burundi. Sapaan ‘Amashyo’ dapat diartikan sebagai “semoga kamu memiliki banyak ternak” dalam Bahasa Burundi. Sapi adalah simbol kesehatan dan kemakmuran. Dipercaya bila kamu  menanam tanduk ternak sapi yang mati didekat rumah maka keberuntungan akan selalu menyertaimu.

Pemilihan Umum di Negara Burundi
Pemilihan umum di Negara Burundi

Burundi pernah menjadi jajahan Jerman pada masa Perang Dunia II dan kemudian beralih ke Belgia setelah perang usai. Kemerdekaan pada 1962 adalah titik balik malapetaka yang terjadi berkepanjangan hingga kini.

Burundi di huni oleh dua suku besar yakni Hutu dan Tutsi. Dua suku yang selalu berperang sejak sebelum masehi terus mengulang kesalahannya dengan berebut kekuasaan di Burundi.

Presiden pertama Burundi Pierre Buyoya yang berasal dari suku Tutsi melakukan pembantaian pada suku Hutu hingga 1993 saat Melchior Ndadaye yang berasal dari suku Hutu melakukan kudeta. Segera saja arah angin berbalik dan terjadi pembantaian pada suku Tutsi. Laporan PBB menyebutkan, setidaknya 300 ribu orang tewas dalam pembantaian tersebut.

Kedua suku kemudian sepakat mengakhiri konflik melalui perjanjian damai di Arusha, Tanzania.

Kondisi ini jelas tidak menguntungkan rakyat sampai akhirnya kedua suku ini sepakat untuk mengakhiri konflik melalui penandatanganan perjanjian damai di Arusha, Tanzania.

Selang 15 tahun berlalu, konflik kembali terjadi ketika Presiden Pierre Nkurunziza hendak mencalonkan diri kembali untuk ketiga kalinya sebagai presiden. Keinginan Nkurunziza ini bertentangan dengan konstitusi dan ia pun memerintahkan agar masyarakat yang tak setuju untuk ditangkap bahkan dibunuh. Perlakuan ini akhirnya mendorong kudeta militer yang dilakukan Jenderal Godefroid Niyombare terhadap Nkurunziza. Konflik di negara itu pun pecah kembali.

Kunjungi juga, Richland – Informasi Pertanian dan Perkebunan

Konflik berkepanjangan selama puluhan tahun ini berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Kondisi ekonomi Burundi dapat dikatakan buruk, dimana menurut catatan World Bank, PDB per kapita negara ini adalah USD 900 atau sekitar Rp 12,7 juta. Jumlah ini terbilang rendah bila dibandingkan dengan Indonesia yang pada 2018 lalu PDB per kapitanya mencapai USD 3.893 atau hampir Rp 55 juta.

Masalah ekonomi ini juga berdampak pada kesehatan penduduknya. Pada 2016, UNICEF memperingatkan kondisi Burundi yang mengalami krisis besar lantaran terjadi kekerasan, malnutrisi, dan berbagai penyakit seperti malaria dan kolera. Selain itu, anak-anak di sana juga menderita kwashiorkor yaitu bentuk gizi buruk yang disebabkan kekurangan gizi protein. PBB juga mencatat rata-rata angka harapan hidup penduduk laki-laki maupun perempuan adalah 50 tahun.

Baca Juga: Aturan lalulintas Paling Aneh

Hingga saat ini, Burundi masih berjuang untuk menjadi sejahtera. Konflik politik masih terjadi. Hasil referendum pada Mei 2018 menunjukkan bahwa banyak orang memberikan suara untuk menyutujui reformasi konstitusi yang memungkinkan Presiden Nkurunziza untuk tetap menjabat sampai 2034. Sayangnya, proses pemungutan suara itu diwarnai dengan kekerasan dan intimidasi.

Perang saudara antar suku Hutu dan Tustsi juga terus berlanjut hingga tahun 1996, saat mantan presiden Pierre Buyoya mengambil alih kekuasaan dalam suatu kudeta.

Kunjungi situs penanganan Biomedical Treatment

Antara tahun 1993 dan 1999, perang antar etnis antara suku Tutsi dan Hutu telah mengakibatkan korban sebanyak 250.000 jiwa. Pada Agustus 2000, persetujuan damai ditandatangani hampir seluruh kelompok politik di Burundi yang menjelaskan rencana menuju perdamaian. Kemudian pada tahun 2003, gencatan senjata disetujui antara pemerintah Buyoya dan kelompok pemberontak Hutu terbesar, CNDD-FDD.

Meski telah ada persetujuan damai, hingga kini konflik masih berlanjut. Dalam pemilu yang diadakan bulan Juli 2005, mantan pemberontak Hutu, CNDD-FDD berhasil memenagkan pemilu.

Leave a Reply